Kisah Konyol dalam Rumah Tangga
Judul : KDRT-Kekonyolan dalam Rumah Tangga
Penulis : Bim Lebon
Penerbit : Lingkar Pena Kreativa
Cetakan : 1 Maret 2011
Tebal : 170 halaman
Kehidupan rumah tangga memang penuh rasa. Terkadang manis, pahit, asin atau kolaborasi seluruh rasa. Begitu pula cerita yang memenuhi buku KDRT ini. Biasanya, KDRT selalu identik dengan sesuatu yang menyedihkan dan menyakitkan. Tapi, tidak buku ini. Di sini KDRT-nya dijamin berbeda, sama sekali tidak menyuguhkan kekerasan. Lho, kok? Ya. Meski berjudul KDRT, buku ini bukan menyajikan nuansa kekerasan dalam rumah tangga, melainkan kekonyolan.
Selasa, 18 Oktober 2011
RESENSI
Memetik Hikmah dari Guru Kehidupan
Judul buku : Para Guru Kehidupan
Penulis : Epri Tsaqib, dkk
Penerbit : Geraibuku.com
Cetakan : 1April 2011
Judul buku : Para Guru Kehidupan
Penulis : Epri Tsaqib, dkk
Penerbit : Geraibuku.com
Cetakan : 1April 2011
Para Guru Kehidupan, sebuah kompilasi kisah inspiratif. Penulis buku antologi ini, satu per satu mengejawantahkan kisah memukau. Sederhana, tapi mengena. Ada pula cerita tak terduga.
Pembaca akan dibuat tersenyum, tertawa atau terenyuh membaca 49 kisah penuh hikmah. Pembaca juga mendapat pelajaran berharga yang bisa dijadikan bahan kontempelasi diri dan modal tambahan menghadapi perjalanan hidup.
Pelajaran berharga itu ialah para guru kehidupan. Bisa jadi, guru kehidupan itu berkamuflase sebagai wujud biasa, bukan siapa-siapa, orang yang sederhana, peristiwa tak terduga atau tempat yang pernah kita singgahi. Buku ini diawali kisah Herlyanti, berjudul Sang Pembuka Hati. Herlyanti bertutur pengalamannya dengan Josette, atasannya, yang mengajarkan bagaimana mengubah rasa benci menjadi cinta.
Ada pula kisah inspiratif lain. Cerita yang ditulis Intan HS, mengisahkan ketegaran pria renta pengayuh becak bernama Pak Mo. Catatan hidup Pak Mo, potret kehidupan mantan pejuang perang dan kini menjadi tukang becak. Di balik pilunya kisah ini, ada pelajaran berharga buat kita.
Setiap tulisan dalam buku yang terbagi delapan tema ini memiliki pesan sarat makna. Inilah yang menjadi salah satu kekuatan buku ini. (Ummi h.88 ed Sept 2011).
Senin, 26 September 2011
Ini Tentang Matematika Allah
dakwatuna.com - Bermula dari postingan seorang ibu bekerja yang juga moderator sebuah page parenting di Facebook. Ibu ini bercerita jika bangun sebelum subuh, kemudian shalat tahajjud, membaca Al-Qur’an dan doa ma’tsurat ia merasa memiliki energi yang luar biasa untuk menjalankan aktivitas domestik dan publiknya seharian tanpa lelah. Setelah postingan itu banyak memberyang bertanya apa itu doa ma’tsurat. Karena banyak yang tidak tahu, si ibu terniat untuk membagikan buku doa ma’tsurat kepada member page tersebut hitung-hitung sebagai ungkapan rasa syukur 8 tahun pernikahannya. Setelah mendapat honor mengajar pasca sarjana di sebuah perguruan tinggi, si ibu membeli 3 kodi (60) buku doa ma’tsurat untuk dikirim ke seluruh wilayah Indonesia.
Si ibu mungkin mengeluarkan uang beberapa ratus ribu untuk membeli buku doa ma’tsurat, amplop dan ongkos kirim. Tapi usahanya untuk menyebar kebaikan tentu menjadi catatan tersendiri bagi Allah SWT. Tidak akan miskin orang yang bersedekah, tidak akan berkurang harta dan ilmu yang kita berikan kepada orang lain. Jika kita memberi 1 dari 2 harta yang kita miliki (2-1) dalam matematika manusia maka harta kita akan tinggal 1 bahkan bisa habis jika kita kurangi satu lagi. Tapi tidak bagi Allah, 2-1 bisa jadi 10.
Itu yang terjadi pada ibu moderator sebuah page parenting di Facebook tadi. Walau buku doa ma’tsurat belum dia kirimkan tapi Allah SWT telah mengganti puluhan kali lipat dari uang yang ia keluarkan. Siang itu dia dipanggil bagian keuangan tempat dia bekerja. Dia di suruh menandatangani kwitansi rapelan kenaikan gaji 5 bulan yang totalnya jutaan. Tentu saja si ibu terkejut karena dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan kenaikan gaji. Dan yang paling mengharukan setelah penyesuaian gaji walaupun paling muda tetapi sekarang gajinya paling tinggi karena pendidikannya juga paling tinggi di tempat kerjanya itu.
Luar biasa! Tidak akan miskin orang yang suka berbagi. Bahkan sebaliknya Allah akan menjadikan kita kaya. Tidak saja kaya hati, tapi juga kaya materi…..!!!
Si ibu mungkin mengeluarkan uang beberapa ratus ribu untuk membeli buku doa ma’tsurat, amplop dan ongkos kirim. Tapi usahanya untuk menyebar kebaikan tentu menjadi catatan tersendiri bagi Allah SWT. Tidak akan miskin orang yang bersedekah, tidak akan berkurang harta dan ilmu yang kita berikan kepada orang lain. Jika kita memberi 1 dari 2 harta yang kita miliki (2-1) dalam matematika manusia maka harta kita akan tinggal 1 bahkan bisa habis jika kita kurangi satu lagi. Tapi tidak bagi Allah, 2-1 bisa jadi 10.
Itu yang terjadi pada ibu moderator sebuah page parenting di Facebook tadi. Walau buku doa ma’tsurat belum dia kirimkan tapi Allah SWT telah mengganti puluhan kali lipat dari uang yang ia keluarkan. Siang itu dia dipanggil bagian keuangan tempat dia bekerja. Dia di suruh menandatangani kwitansi rapelan kenaikan gaji 5 bulan yang totalnya jutaan. Tentu saja si ibu terkejut karena dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan kenaikan gaji. Dan yang paling mengharukan setelah penyesuaian gaji walaupun paling muda tetapi sekarang gajinya paling tinggi karena pendidikannya juga paling tinggi di tempat kerjanya itu.
Luar biasa! Tidak akan miskin orang yang suka berbagi. Bahkan sebaliknya Allah akan menjadikan kita kaya. Tidak saja kaya hati, tapi juga kaya materi…..!!!
Mimpi yang Belum Tergapai
dakwatuna.com - Bismillah…
Di setiap kemungkinan yang tersedia, selalu ada banyak kesempatan untuk memberi kita ruang dalam belajar. Entah ia sedikit menyengat kesadaran kita, atau menghentakkan rasionalitas kita pada keterpurukan terhebat. Tetaplah, setiap kejadian sejatinya ia memiliki kelayakan yang sangat pantas untuk dimaknai. Maka seperti itulah gugusan hikmah yang Allah sediakan untuk kita.
Sebuah kalimat sederhana pernah terdengar dan sangat berkesan bagi saya.. “Entah itu kesalahan yang pahit, kekhilafan yang terlampaui pekat, sebuah kejadian, tetaplah kejadian. Dia hadir bukan hanya sekedar memberi setitik warna dalam kehidupan kita, namun juga menjadi kesempatan yang besar buat kita agar mampu belajar. hanya saja, BAGAIMANA, kita memetik hikmahnya adalah kunci dari setiap langkah yang akan kita tapaki ke depannya, apakah ia seputih mutiara? atau masih sepekat lumpur hitam yang kotor?”
Dan ketika kita mencoba meraba segala bentuk kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, maka yang akan kita temukan adalah KETAKUTAN, kalau saja apa yang akan ada di hadapan kita tak sesuai dengan HARAP yang pernah ada, atau apa yang akan terjadi nanti tak seindah BAYANGAN kita, atau, bisa saja, justru kemungkinan-kemungkinan yang hadir dalam IMAJI kita, suatu waktu, takkan pernah terjadi. Maka terjadilah KEKECEWAAN. Keterpurukan yang mendalam karena harapan yang membumbung tinggi. Untuk kasus ini, saya akan menyetujui “Bahwa bermimpi.. janganlah terlalu tinggi…” namun jika dipahami, kalimat ini hanya untuk berlaku untuk orang yang BERHARAP pada dunia dengan sepetak HARAP yang terlalu diingini. Jika ini engkau miliki, maka jangan sesali, jika akhirnya segala sesak hadir di dalam diri. Karena memang, sedari awal, yang kau ingini, tak lebih dari ejawantahan nafsu yang kau atas namakan MIMPI.
Lalu bagaimana agar MIMPI ini menjadi sebuah motivasi yang tak ternodai?
Sungguh sangat sederhana menguraikannya… Kuncinya ada di HATI….
Hati yang sehat
Itulah dia yang akan berhak menggali hikmah dari setiap kejadian. Dia yang akan mengarahkan kita agar mengorientasikan segala MIMPI, IMAJI, juga HARAP kita hanya kepada Allah. Menisbahkan kepuasan batinmu pada pencapaian dunia, sungguh hanya akan membuatmu terluka. Maka beginilah indikasinya…
1. Selalu mengharap rahmat Allah (Raja’)
Pengharapan…. Awalnya adalah rasa HARAP. Jangan pernah putus harapmu pada Allah. Sebab DIA selalu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Harapmu jangan diorientasikan kepada APA yang kau tuju. tapi SIAPA yang akan membuat APA menjadi nyata.
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang MENGHARAP rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak MENGINGAT Allah” (Al-Ahzab: 21)
Hanya yang mengembalikan HARAP nya pada Allah yang takkan pernah hancur. Sebab mereka sadar, segala yang mereka ingini takkan pernah terjadi selama Allah belum merestui. Harap inilah yang menumbuhkan KEYAKINAN di dalam diri mereka untuk senantiasa bertahan dengan MIMPI mereka. Sebab Allah, selalu akan menyediakan nikmat bagi hamba-Nya yang meminta keinginan mereka dengan doa, usaha dan tawakal yang sempurna.
2. Takut dengan hukuman Allah (khauf)
Rasa TAKUT.
KETAKUTAN yang tumbuh karena diri yang menyadari bahwa hanya Allah yang berhak untuk di sembah, hanya Allah yang berhak untuk dimiliki dan diagungkan dalam kondisi apapun. KETAKUTAN inilah yang membuat kita beranjak dari posisi-posisi memungkinkan untuk berbuat salah, menuju kutub tujuan baru yang lebih mulia.
Ketika kita merasa, bahwa MIMPI dan HARAP kita masih belum terbalut dengan rasa KETAKUTAN bahwa yang kita ingini adalah hal-hal yang TIDAK patut untuk kita miliki, maka janganlah heran jika akhirnya kita menjadi orang yang sedikit MEMAKSA dalam doa-doa kita. Atau bukan dalam porsi SEDIKIT, tapi mungkin BANYAK?
Ahh.. mungkin memang kita belum benar-benar takut bahwa maksiat yang kita punya bisa jadi penghalang semua mimpi yang kita ingini. Bahwa tidak tumbuhnya rasa TAKUT bisa jadi menjadi alasan kenapa MIMPI kita belum terbersamai dengan apa-apa yang Allah (juga) ingini. Rasa TAKUT ini yang memaksa kita untuk merasa MALU dan TUNDUK bahwa sejatinya diri, sungguh masih berbalut dengan pekat yang menemani. Rasa TAKUT inilah yang membuat hati kita menjadi terkontrol untuk tak MEMAKSA, tak KECEWA, tak TERHEMPAS, ketika memang MIMPI belum terealisasi.
2 syarat inilah yang harus kita punyai. Tak mudah.. sungguh tak mudah.. Namun jika kita menjaganya, maka rasa CINTA pada Allah akan semakin membumbung tinggi. Menembus batas cakrawala kita hingga kemudian menyadari, kenapa Bilal bin Rabah sabar dengan siksaan di tengah gurun pasir yang panas menyengat. Kenapa Khalid Bin Walid begitu mencintai dinginnya udara bersama kuda perang dibanding tidur bersama Istri. Kenapa Abu Bakar rela digigiti hewan berbisa demi melindungi Sang Nabi. Juga kisah-kisah menghentakkan orang-orang shalih nan menggairahkan. Mereka mengajarkan kepada kita, bahwa kebersihan hati selalu akan mengukuhkan karakter kita menjadi manusia-manusia sempurna dalam ber MIMPI.
Selamat BERMIMPI.. Semoga Allah me-Ridha-i..
Taipei, 26 Desember 2010
- di suhu yang membuat menggigil.. Untuk mimpi-mimpi dan harap yang mungkin masih ternodai -
Di setiap kemungkinan yang tersedia, selalu ada banyak kesempatan untuk memberi kita ruang dalam belajar. Entah ia sedikit menyengat kesadaran kita, atau menghentakkan rasionalitas kita pada keterpurukan terhebat. Tetaplah, setiap kejadian sejatinya ia memiliki kelayakan yang sangat pantas untuk dimaknai. Maka seperti itulah gugusan hikmah yang Allah sediakan untuk kita.
Sebuah kalimat sederhana pernah terdengar dan sangat berkesan bagi saya.. “Entah itu kesalahan yang pahit, kekhilafan yang terlampaui pekat, sebuah kejadian, tetaplah kejadian. Dia hadir bukan hanya sekedar memberi setitik warna dalam kehidupan kita, namun juga menjadi kesempatan yang besar buat kita agar mampu belajar. hanya saja, BAGAIMANA, kita memetik hikmahnya adalah kunci dari setiap langkah yang akan kita tapaki ke depannya, apakah ia seputih mutiara? atau masih sepekat lumpur hitam yang kotor?”
Dan ketika kita mencoba meraba segala bentuk kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, maka yang akan kita temukan adalah KETAKUTAN, kalau saja apa yang akan ada di hadapan kita tak sesuai dengan HARAP yang pernah ada, atau apa yang akan terjadi nanti tak seindah BAYANGAN kita, atau, bisa saja, justru kemungkinan-kemungkinan yang hadir dalam IMAJI kita, suatu waktu, takkan pernah terjadi. Maka terjadilah KEKECEWAAN. Keterpurukan yang mendalam karena harapan yang membumbung tinggi. Untuk kasus ini, saya akan menyetujui “Bahwa bermimpi.. janganlah terlalu tinggi…” namun jika dipahami, kalimat ini hanya untuk berlaku untuk orang yang BERHARAP pada dunia dengan sepetak HARAP yang terlalu diingini. Jika ini engkau miliki, maka jangan sesali, jika akhirnya segala sesak hadir di dalam diri. Karena memang, sedari awal, yang kau ingini, tak lebih dari ejawantahan nafsu yang kau atas namakan MIMPI.
Lalu bagaimana agar MIMPI ini menjadi sebuah motivasi yang tak ternodai?
Sungguh sangat sederhana menguraikannya… Kuncinya ada di HATI….
Hati yang sehat
Itulah dia yang akan berhak menggali hikmah dari setiap kejadian. Dia yang akan mengarahkan kita agar mengorientasikan segala MIMPI, IMAJI, juga HARAP kita hanya kepada Allah. Menisbahkan kepuasan batinmu pada pencapaian dunia, sungguh hanya akan membuatmu terluka. Maka beginilah indikasinya…
1. Selalu mengharap rahmat Allah (Raja’)
Pengharapan…. Awalnya adalah rasa HARAP. Jangan pernah putus harapmu pada Allah. Sebab DIA selalu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Harapmu jangan diorientasikan kepada APA yang kau tuju. tapi SIAPA yang akan membuat APA menjadi nyata.
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang MENGHARAP rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak MENGINGAT Allah” (Al-Ahzab: 21)
Hanya yang mengembalikan HARAP nya pada Allah yang takkan pernah hancur. Sebab mereka sadar, segala yang mereka ingini takkan pernah terjadi selama Allah belum merestui. Harap inilah yang menumbuhkan KEYAKINAN di dalam diri mereka untuk senantiasa bertahan dengan MIMPI mereka. Sebab Allah, selalu akan menyediakan nikmat bagi hamba-Nya yang meminta keinginan mereka dengan doa, usaha dan tawakal yang sempurna.
2. Takut dengan hukuman Allah (khauf)
Rasa TAKUT.
KETAKUTAN yang tumbuh karena diri yang menyadari bahwa hanya Allah yang berhak untuk di sembah, hanya Allah yang berhak untuk dimiliki dan diagungkan dalam kondisi apapun. KETAKUTAN inilah yang membuat kita beranjak dari posisi-posisi memungkinkan untuk berbuat salah, menuju kutub tujuan baru yang lebih mulia.
Ketika kita merasa, bahwa MIMPI dan HARAP kita masih belum terbalut dengan rasa KETAKUTAN bahwa yang kita ingini adalah hal-hal yang TIDAK patut untuk kita miliki, maka janganlah heran jika akhirnya kita menjadi orang yang sedikit MEMAKSA dalam doa-doa kita. Atau bukan dalam porsi SEDIKIT, tapi mungkin BANYAK?
Ahh.. mungkin memang kita belum benar-benar takut bahwa maksiat yang kita punya bisa jadi penghalang semua mimpi yang kita ingini. Bahwa tidak tumbuhnya rasa TAKUT bisa jadi menjadi alasan kenapa MIMPI kita belum terbersamai dengan apa-apa yang Allah (juga) ingini. Rasa TAKUT ini yang memaksa kita untuk merasa MALU dan TUNDUK bahwa sejatinya diri, sungguh masih berbalut dengan pekat yang menemani. Rasa TAKUT inilah yang membuat hati kita menjadi terkontrol untuk tak MEMAKSA, tak KECEWA, tak TERHEMPAS, ketika memang MIMPI belum terealisasi.
2 syarat inilah yang harus kita punyai. Tak mudah.. sungguh tak mudah.. Namun jika kita menjaganya, maka rasa CINTA pada Allah akan semakin membumbung tinggi. Menembus batas cakrawala kita hingga kemudian menyadari, kenapa Bilal bin Rabah sabar dengan siksaan di tengah gurun pasir yang panas menyengat. Kenapa Khalid Bin Walid begitu mencintai dinginnya udara bersama kuda perang dibanding tidur bersama Istri. Kenapa Abu Bakar rela digigiti hewan berbisa demi melindungi Sang Nabi. Juga kisah-kisah menghentakkan orang-orang shalih nan menggairahkan. Mereka mengajarkan kepada kita, bahwa kebersihan hati selalu akan mengukuhkan karakter kita menjadi manusia-manusia sempurna dalam ber MIMPI.
Selamat BERMIMPI.. Semoga Allah me-Ridha-i..
Taipei, 26 Desember 2010
- di suhu yang membuat menggigil.. Untuk mimpi-mimpi dan harap yang mungkin masih ternodai -
Jalan Para Peminang Bidadari
Alam Bebas Membentuk Nilai-nilai di sanalah kehidupan para pejuang.Mereka bilang jalan-jalan.
Lebih dari itu ku yakini ini adalah sebuah persiapan.
Persiapan untuk sebuah perjalanan.
Persiapan yang sampai pada titik mana aku berhenti tak pernah aku pikirkan.
Karena persiapan adalah sebuah proses, dan proses tak kan pernah aku biarkan ia terhenti di perjalanan.
Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ankabut: 20)
Alam bebas, di sanalah kau menyadari siapa dirimu sebenarnya dan siapa sebenarnya kawanmu serta kau akan menyadari siapakah AllahMenyalurkan hobi dan senang-senang saja kau.
Ini bukanlah sekedar hobi atau senang-senang saja kawan,
Ini adalah sebuah persiapan…
Persiapan untuk meninggalkan dunia yang penuh dengan kesenangan-kesenangan yang semu.
Persiapan untuk menunjukkan keberartian tulang-tulang berserakan ini di hadapan Rabbnya.
Persiapan yang ku lakukan dengan kebahagiaan menjalankannya.
Kalau lah ini semua untuk jalan-jalan saja atau sekedar menyalurkan hobi bermain di alam, maka saksikanlah bahwa kau takkan melihat ku berlama-lama di sini.
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan. Peliharalah apa-apa yang menguntungkan kamu dan mohonlah pertolongan Allah, dan jangan lemah semangat (patah hati). Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, “Oh andaikata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu”, tetapi katakanlah, “Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah pasti dikerjakan-Nya.” Ketahuilah, sesungguhnya ucapan: “andaikata” dan “jikalau” membuka peluang bagi (masuknya) karya (kerjaan) setan.” (HR. Muslim)
Dibutuhkan lebih banyak KEBERANIAN untuk menghadapi kehidupan sehari-hari yang sebenarnya lebih kejam daripada bahaya pendakian yang nyata, Tetapi dibutuhkan lebih banyak KETABAHAN untuk bekerja di kota daripada mendaki gunung Yang tinggi (Ipala).Ya, saya yakini ini adalah persiapan, persiapan yang mungkin tak ada ujung hingga aku lah yang paling layak dan pantas berada di barisan terdepan menjemput bidadari menggapai surga, bersama Rasulullah bertemu dengan Allah.
Inilah jalan yang ku tempuh.
Jalannya para pejuang yang tidak semua orang senang mengikutinya.
Jalan yang berliku penuh rintangan dan ancaman.
Jalannya para pejuang yang rindu bertemu Rabbnya.
Jalan para peminang bidadari.
Kematian.. Kita yang merencanakan, Allah yang menentukan. Oleh karenanya, rencanakanlah kematian yang indah, kematian orang-orang yang rindu bertemu Rabbnya, Sehingga Allah tak sungkan menyambut kerinduan tersebut dan menetapkan kematian indah yang diinginkan setiap muslim“Sesungguhnya, Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) dari Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111)
Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang mati dan dirinya tidak pernah berjihad dan tidak pernah meletakkan dalam dirinya keinginan untuk berjihad maka dia mati dalam cabang kemunafikan.“ (Hadits Riwayat Imam Muslim)
Mari Bermain, Belajar dan Berlatih di Alam
Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi. Ya Allah kubersimpuh di hadapan-Mu dan kupanjatkan Doa: “Ya Rabb Wafatkanlah aku di medan Jihad atau di medan Dakwah atau dengan selemah-lemahnya aku, wafatkanlah aku dalam husnul khatimah”, aamiin.
KUSEBUT IA, ANGKASA SANG BUNGA PERADABAN
dakwatuna.com
Langit baru saja terbangun dari malamnya
lalu rona merekah merah di kaki anak bukit
dibawah cakrawala angkasa-angkasa tegak
kaki-kakinya terhujam ke bumi
tunduk, melantun pada doa-doa
yang sejak gelap subuh ia lafalkan
dalam tahajud-tahajudnya
dalam sujud-sujudnya
dan ini adalah cerita angkasa
yang teguh menjaga
saat terik masih saja merah
dan ini adalah kisah angkasa
yang tak pernah mengeja jasa
karena diatas horison sana
telah ditata
lalu angkasa-angkasa?
cakrawala begitu iba
lalu ia menggantung teduh
mencurah bening cintanya
pada manusia-manusia
pada angkasa-angkasa
tapi mengapa?
bukankah angkasa tak perlu teduh?
angkasa hanyalah manusia
yang kueja ‘akhwat anggun nan perkasa’
Kueja kembali, dan kusebut ia Angkasa sang bunga peradaban…
@markaz pribadiku, memoar mega mendung
langkah kecil untuk ribuan langkah yg harus ditapaki..
Bismillah!! Hamasah…!
Langit baru saja terbangun dari malamnya
lalu rona merekah merah di kaki anak bukit
dibawah cakrawala angkasa-angkasa tegak
kaki-kakinya terhujam ke bumi
tunduk, melantun pada doa-doa
yang sejak gelap subuh ia lafalkan
dalam tahajud-tahajudnya
dalam sujud-sujudnya
dan ini adalah cerita angkasa
yang teguh menjaga
saat terik masih saja merah
dan ini adalah kisah angkasa
yang tak pernah mengeja jasa
karena diatas horison sana
telah ditata
lalu angkasa-angkasa?
cakrawala begitu iba
lalu ia menggantung teduh
mencurah bening cintanya
pada manusia-manusia
pada angkasa-angkasa
tapi mengapa?
bukankah angkasa tak perlu teduh?
angkasa hanyalah manusia
yang kueja ‘akhwat anggun nan perkasa’
Kueja kembali, dan kusebut ia Angkasa sang bunga peradaban…
@markaz pribadiku, memoar mega mendung
langkah kecil untuk ribuan langkah yg harus ditapaki..
Bismillah!! Hamasah…!
TENTANG RASA
dakwatuna.com - “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu cintai sesuatu, padahal jahat akibatnya.”
Sesisir kata itu telah begitu lama membayangi netra, tapi dalam juga kah getar pemahaman yang dibawanya.. Ada kalanya hati mampu kuat menghadapi, dan ada kalanya pula terasa sungguh berat untuk dijalani,
Sekali lagi tentang rasa,
Tentang hati,
Yang senantiasa terbolak-balikkan oleh kehendak Illahi Rabbi…
Ya akhi,
Terpahami sungguh bahwa di sangkamu ia lah sang bidadari, tapi ada kalanya pandang kita tersamar ilusi. Penilaian kita sedikit banyak terwarnai semata oleh kecondongan hati, padahal kita diberinya akal untuk lebih menimbangkan segala hal;
Bukankah, kema’rufan sejati lah yang kita cari…
Segala usaha dalam kebenaran telah kau tempuhi, dan ketika sampai pada titik kesadaran akan kuasa Illahi, adakah engkau tetap akan berkeras menghindari?!
Ada takdir-Nya yang telah tertulis rapi, dan hanya selaksa keikhlasan hati yang akan menuntunmu menjalani…
Ya ukhti,
Termengerti penuh bahwa dalam timbangmu adalah dia yang terbaik. Dalam ranah akhlak, bahkan segala kecukupan raga. Hanya saja kadang sisi kebaikan yang lebih utama jadi terlupa. Akan tetap mampukah berbahagia di atas pemaksaan rasa?!
Bukankah, kedamaian hakiki yang kita damba…
Beragam daya kebaikan engkau gelarkan dalam membuka jalan, dan jika tetap sampai pada titik yang nadir untuk dipungkiri, masihkah engkau hendak mengeraskan hati?
Ada jalan rencana-Nya yang terkadang di luar batas logika, dan yang kita lakukan cukup sekedar menjaga ihsannya prasangka…
Tak ada daun jatuh pun yang tak tercatatkan dalam Lauh Mahfudz-Nya,
Tak ada sedepa langkah pun yang luput dari amatannya-Nya,
Dan tak ada setetes pun air mata yang luput dari hitungan balasan-Nya,
Jika memang ditakdirkan bersama… akan amat mudah bagi-Nya nanti berikan cara,
Hanya saja setiap insan harus memahami batasan usaha…dan lebih utamakan jalan keridhaan-Nya meski berat terasa,
Sungguh, dalam percaya pada-Nya, tak akan pernah ada yang tersia-sia…
Seiring kesadaran yang merambat perlahan, teringat sendu taubat Nabi Adam, dan mengiringi ucap doa seiring lantunan:
Sesisir kata itu telah begitu lama membayangi netra, tapi dalam juga kah getar pemahaman yang dibawanya.. Ada kalanya hati mampu kuat menghadapi, dan ada kalanya pula terasa sungguh berat untuk dijalani,
Sekali lagi tentang rasa,
Tentang hati,
Yang senantiasa terbolak-balikkan oleh kehendak Illahi Rabbi…
Ya akhi,
Terpahami sungguh bahwa di sangkamu ia lah sang bidadari, tapi ada kalanya pandang kita tersamar ilusi. Penilaian kita sedikit banyak terwarnai semata oleh kecondongan hati, padahal kita diberinya akal untuk lebih menimbangkan segala hal;
Bukankah, kema’rufan sejati lah yang kita cari…
Segala usaha dalam kebenaran telah kau tempuhi, dan ketika sampai pada titik kesadaran akan kuasa Illahi, adakah engkau tetap akan berkeras menghindari?!
Ada takdir-Nya yang telah tertulis rapi, dan hanya selaksa keikhlasan hati yang akan menuntunmu menjalani…
Ya ukhti,
Termengerti penuh bahwa dalam timbangmu adalah dia yang terbaik. Dalam ranah akhlak, bahkan segala kecukupan raga. Hanya saja kadang sisi kebaikan yang lebih utama jadi terlupa. Akan tetap mampukah berbahagia di atas pemaksaan rasa?!
Bukankah, kedamaian hakiki yang kita damba…
Beragam daya kebaikan engkau gelarkan dalam membuka jalan, dan jika tetap sampai pada titik yang nadir untuk dipungkiri, masihkah engkau hendak mengeraskan hati?
Ada jalan rencana-Nya yang terkadang di luar batas logika, dan yang kita lakukan cukup sekedar menjaga ihsannya prasangka…
Tak ada daun jatuh pun yang tak tercatatkan dalam Lauh Mahfudz-Nya,
Tak ada sedepa langkah pun yang luput dari amatannya-Nya,
Dan tak ada setetes pun air mata yang luput dari hitungan balasan-Nya,
Jika memang ditakdirkan bersama… akan amat mudah bagi-Nya nanti berikan cara,
Hanya saja setiap insan harus memahami batasan usaha…dan lebih utamakan jalan keridhaan-Nya meski berat terasa,
Sungguh, dalam percaya pada-Nya, tak akan pernah ada yang tersia-sia…
Seiring kesadaran yang merambat perlahan, teringat sendu taubat Nabi Adam, dan mengiringi ucap doa seiring lantunan:
قَالاَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi… (QS Al-A’raf: 23)
Langganan:
Postingan (Atom)
